BI Bali Ajak Perwakilan Petani Gula Kelapa Jembrana Ke Yogyakarta


Yogyakarta, BeritaDewata – KSU Jatirogo di Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta hadir untuk meningkatkan posisi tawar petani perajin gula kelapa dalam hal kualitas, jenis produk dan harga produk. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua KSU Jatirogo FX Hendro Utomo saat menerima Rombongan KPw Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Sabti, 27 April 2016.

Dijelaskan Hendro KSU Jatirogo adalah Koperasi Produsen produk perkebunan organik yang didirikan pada 26 November 2008 dengan maksud dan tujuan mensertifikatkan kebun organik dan memasarkan bersama produk-produk perkebunan organik dan hasil pengolahannya, terutama gula kelapa organik.

“Produksi utama KSU Jatirogo adalah Gula kelapa organik berupa gula kelapa cetak dan gula semut / kristal adalah gula kelapa yang dibuat dari nira kelapa yang berasal dari kebun kelapa petani organik produsen gula kelapa yang menjadi anggota ICS KSU Jatirogo.” Jelasnya.

KSU Jatirogo telah memiliki Sertifikasi organik untuk 3 standar organik Internasional yaitu Standar Organik EU-Regulation : untuk pasar Eropa, Standar Organik NOP-USDA : untuk pasar Amerika dan Standar Organik JAS : untuk pasar Jepang dengan Lembaga Sertifikasi : CUC (Control Union Certification) LSPO dari Belanda, berkantor di Jakarta .

Jumlah Produsen Gula Kelapa yang Terorganisir ICS KSU Jatirogo Tahun 2008 : 1260 orang Tahun 2009 : 1596 orang, Tahun 2010 : 1620 orang, Tahun 2011 : 1620 orang, Tahun 2012 : 1554 orang dan Tahun 2013 : 2024 orang
Capaian Omset Penjualan Tahun 2011 : 47252 Kg, Tahun 2012 : 270.856,4 Kg dan Tahun 2013 : 566.522,03 Kg dengan Kapasitas Produksi Gula kelapa cetak organik : 2000 ton per tahun, Gula semut organik: 150 ton per bulan, Omset Penjualan rata-rata / tahun : 350 ton per tahun, Area Pemasaran Produk : Pasar lokal, Nasional dan Internasional dan Negara Tujuan Eksport : Amerika, Eropa, Australia, Asia, Afrika.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana didampingi oleh Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan KPwBI Provinsi Bali Leo Ediwijaya megungkapkan, Bali merupakan daerah tujuan wisata utama di Indonesia dan menjadi salah satu destinasi tujuan wisata dunia. Pariwisata adalah lokomotif ekonomi Bali berkat keindahan alam dan seni budaya serta keramahtamahan penduduknya.

Namun, menurutnya, pada saat ini hampir semua wilayah di Pulau Bali melakukan pembangunan yang berorientasi pada sektor wisata. “Orientasi masyarakat di Bali telah berubah dari yang semula merupakan masyarakat agraris dengan mata pencaharian sebagai petani menjadi masyarakat pelaku penyedia tempat wisata,” ungkapnya.

Untuk itu, Iman menambahkan, KPwBI Provinsi Bali berupaya meningkatkan produksi dan kapasitas UMKM yang berpotensi ekspor atau berpotensi menunjang sektor pariwisata. “Salah satunya adalah pengembangan gula semut di Jembrana dan desa wisata Tampaksiring,” jelasnya.

Dijelaskan, gula semut adalah gula merah versi bubuk dan sering pula disebut orang sebagai Gula Kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yang bersarang di tanah. Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah nira dari pohon Kelapa atau pohon aren.

Keistimewaan gula semut adalah memiliki rasa dan aroma yang khas yang berasal dari bahan pembuatnya, yaitu nira. Dibandingkan dengan gula cetak, pengolahan nira menjadi gula semut akan lebih menguntungkan karena harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan gula cetak, berbentuk serbuk sehingga lebih luwes pemakaiannya dibandingkan gula cetak dan lebih mudah penyimpannya serta memiliki umur simpan lebih lama.

Industri gula semut atau gula merah bubuk di dalam negeri mampu menghasilkan produk yang diminati pasar internasional. “Meski pengolahannya masih banyak dilakukan secara konvensional, namun produk gula semut telah berhasil menembus pasar ekspor ke beberapa negara seperti Amerika, Eropa, Srilanka, Australia dan Jepang,” jelas Iman.

Oleh karena itu, KPwBI Provinsi Bali mulai mengidentifikasi pengembangan gula semut di Desa Pendem, Jembrana. Kelompok Mawar Bali, terdiri dari petani gula kelapa sejumlah 20 orang yang berada di sekitar Bukit Mawar, Desa Pendem, Jembrana akan dibina oleh KPwBI Provinsi Bali untuk menghasilkan produk gula semut berkualitas ekspor.

Untuk itu, petani gula kelapa tersebut diajak mengikuti kunjungan belajar ke Yogyakarta. Kunjungan belajar ke Yogyakarta selain untuk meningkatkan produksi, juga melihat peluang pasar untuk ekspor. “Hasil ini diharapkan dapat berdampingan dengan hilirisasi produk coklat dan kopi, tutupnya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here