Survei BI: Keyakinan Konsumen Bali Tetap Tinggi, Meski Terdampak Gejolak Global

Survei BI: Keyakinan Konsumen Bali Tetap Tinggi, Meski Terdampak Gejolak Global

DENPASAR, BERITA DEWATA – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menyebut keyakinan konsumen di Bali tetap terjaga pada Maret 2026, meski di tengah tekanan geopolitik global.

Erwin Soeriadimadja mengungkapkan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Maret 2026 tercatat sebesar 127,3 atau masih berada di zona optimistis (>100), meskipun mengalami perlambatan sebesar 2,6 persen secara bulanan.

Menurutnya, capaian tersebut masih lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang berada di level 122,9. Optimisme masyarakat terutama ditopang oleh kelompok pendapatan menengah, baik dari sektor formal maupun informal.

“Optimisme konsumen di Bali masih terjaga, meskipun terdapat tekanan dari faktor eksternal,” ujar Erwin.

Ia menjelaskan, perlambatan IKK dipengaruhi oleh penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), yang mencerminkan kehati-hatian masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan, terutama terkait pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas usaha.

Lebih lanjut, Erwin menyoroti dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang berimbas pada sektor pariwisata Bali. Kenaikan harga avtur dan keterbatasan penerbangan menyebabkan adanya pembatalan perjalanan wisatawan.

Meski demikian, peningkatan kunjungan wisatawan pada Maret 2026 menjadi faktor penahan penurunan lebih lanjut. Jumlah kunjungan tercatat mencapai 892 ribu orang atau naik 9,6 persen secara bulanan, didorong oleh wisatawan domestik.

Kondisi tersebut turut mendorong peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 121,0 menjadi 129,8 atau naik 7,3 persen. Peningkatan ini dipicu oleh konsumsi barang tahan lama, peningkatan pendapatan, serta membaiknya ketersediaan lapangan kerja.

Erwin menegaskan, pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi Bali.

“Upaya menjaga daya beli masyarakat terus dilakukan, antara lain melalui operasi pasar murah, pengawasan harga pangan, serta koordinasi distribusi,” jelasnya.

Selain itu, kebijakan suku bunga acuan yang tetap di level 4,75 persen serta tidak adanya kenaikan harga BBM pada awal April 2026 diharapkan mampu menjaga konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Ia menambahkan, berbagai langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Bali tetap positif ke depan.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here