DENPASAR, BERITADEWATA – Pameran patung Inner Landscapes yang digelar di Sudakara ArtSpace tidak hanya menghadirkan karya seni reflektif, tetapi juga menjadi momentum bagi seniman untuk kembali menggarap pasar dalam negeri.
Creative Director Timboel Art Gallery, Magistyo Tahun Emas Raharjo atau yang akrab disapa Magis, mengungkapkan bahwa karya-karya mereka selama ini lebih banyak dipasarkan ke luar negeri.
“Sejak 1995, karya kami sudah mencapai ribuan dan setiap bulan kami ekspor minimal satu kontainer ke Amerika dan Eropa, seperti Jerman, Prancis, dan Spanyol,” ujar Magis.
Namun dalam dua tahun terakhir, pihaknya mulai melihat potensi besar pasar seni di Indonesia, khususnya Bali.
“Kami melihat perkembangan ekonomi Indonesia cukup kuat, sehingga kami mulai kembali fokus ke pasar dalam negeri,” jelasnya.
Dari sisi konsep, pameran Inner Landscapes mengangkat refleksi kehidupan manusia yang dituangkan dalam bentuk patung.
“Tema ini menggambarkan perjalanan hidup, di mana setiap orang pasti mengalami dinamika, naik turun, dan itu yang kami tuangkan dalam karya,” katanya.
Magis juga mengungkapkan bahwa sebagian karya terinspirasi dari budaya lokal di Yogyakarta, termasuk simbol kuda.
“Di daerah kami, kuda menjadi simbol yang kuat dan kami hadirkan dalam berbagai medium seperti kayu dan aluminium,” ujarnya.
Selain aspek bisnis, ia menekankan bahwa seni juga memiliki nilai sosial, salah satunya melalui karya patung yang didedikasikan untuk korban bencana.
“Kami pernah membuat patung singa setinggi enam meter di Sleman City Hall, dan hasil penjualannya 100 persen disumbangkan untuk korban gempa Palu,” ungkapnya.
Pameran ini diharapkan menjadi jembatan antara seniman, kolektor, dan publik dalam memahami seni sebagai medium ekspresi sekaligus bagian dari ekonomi kreatif.






















































