DENPASAR, BERITA DEWATA – Pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 5,82 persen sepanjang 2025 turut ditopang oleh stabilitas sektor jasa keuangan yang tetap terjaga di tengah dinamika global dan domestik.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat, kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) hingga Desember 2025 menunjukkan kondisi yang sehat, baik dari sisi intermediasi, likuiditas, maupun profil risiko.
Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, mengatakan stabilitas tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah.
“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dan ini mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang tetap kuat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (24/2/2026).
Dari sisi perbankan, penyaluran kredit terus menunjukkan tren positif. Kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,73 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp119,87 triliun. Sementara itu, kredit berdasarkan lokasi proyek meningkat 7,18 persen yoy menjadi Rp144,49 triliun.
Pertumbuhan kredit tersebut terutama didorong oleh kredit investasi yang tumbuh 16,21 persen yoy, khususnya pada sektor akomodasi, makan minum, dan real estat. Di sisi lain, kredit konsumsi tumbuh 4,69 persen yoy, sedangkan kredit modal kerja relatif terbatas di angka 0,09 persen yoy.
Penyaluran kredit di Bali juga masih didominasi sektor UMKM dengan porsi mencapai 51,11 persen dan tumbuh 3,91 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan capaian nasional.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,49 persen yoy menjadi Rp203,97 triliun, yang terutama ditopang oleh peningkatan tabungan masyarakat. Fungsi intermediasi tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 58,60 persen.
Sementara itu, kualitas kredit perbankan menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross tercatat 2,44 persen dan NPL net sebesar 1,68 persen. Risiko kredit juga semakin terkendali dengan penurunan Loan at Risk (LaR) menjadi 9,12 persen.
Tak hanya perbankan, perkembangan pasar modal di Bali juga tumbuh signifikan. Jumlah investor mencapai 359.262 Single Investor Identification (SID) atau meningkat 22,69 persen yoy. Nilai kepemilikan saham tercatat sebesar Rp7,69 triliun, tumbuh 47,39 persen yoy, sementara nilai transaksi saham mencapai Rp6,78 triliun atau naik 72,49 persen yoy.
Di sektor pembiayaan, piutang perusahaan pembiayaan mencapai Rp12,16 triliun atau tumbuh 2,39 persen yoy dengan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga. Sementara pembiayaan melalui modal ventura tumbuh 22,34 persen yoy menjadi Rp111,27 miliar.
Adapun pembiayaan melalui fintech peer to peer lending mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 40,59 persen yoy dengan nilai penyaluran mencapai Rp2,10 triliun, meski tetap diiringi dengan risiko yang masih dalam batas terkendali.
Di sisi lain, OJK juga terus mendorong literasi dan inklusi keuangan. Sepanjang 2025, lebih dari 11.900 kegiatan edukasi telah dilaksanakan di Bali dengan total jangkauan lebih dari 925 ribu peserta.
Dalam aspek perlindungan konsumen, OJK Provinsi Bali menerima 784 pengaduan sepanjang 2025, yang mayoritas telah diselesaikan. Pengaduan didominasi oleh sektor fintech lending dan perbankan, dengan isu utama terkait perilaku penagihan dan kasus penipuan.
Kristrianti menegaskan, OJK akan terus memperkuat pengawasan dan sinergi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan.
“OJK berkomitmen menjaga sektor jasa keuangan tetap stabil, inklusif, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata dia.
OJK juga mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap investasi ilegal dengan prinsip “legal dan logis” sebelum memilih produk keuangan.





















































