TABANAN, BERITA DEWATA – Wajah Bali yang kerap dipoles indah lewat brosur pariwisata coba dibongkar lewat pameran seni bertajuk ‘Semburat Bali’ di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City. Pameran kelompok ini menghadirkan 12 seniman dengan total 66 karya dan akan berlangsung hingga Maret 2026 atau menjelang Idul Fitri.
Berbeda dari pameran bertema Bali pada umumnya, ‘Semburat Bali’ justru mengajak publik menengok sisi lain Pulau Dewata—mulai dari persoalan sosial, dinamika budaya, hingga kegelisahan masyarakat lokal yang hidup di tengah arus perubahan.
Kurator pameran Samuel David mengatakan, pameran ini berangkat dari kegelisahan atas cara Bali kerap dipersepsikan secara tunggal melalui kacamata pariwisata.
“Bali itu sangat kompleks. Apa yang selama ini kita lihat dari sisi pariwisata sebenarnya tidak pernah sesederhana itu,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
Samuel yang juga Manajer Labyrinth Art Gallery menyebut para seniman diberi kebebasan penuh untuk merespons realitas yang mereka alami sehari-hari tanpa kerangka kuratorial yang kaku. Hasilnya, tercipta kolase visual yang memperlihatkan Bali dalam proses negosiasi antara tradisi dan modernitas.

Nama ‘Semburat’ dipilih sebagai metafora kondisi masyarakat Bali yang masih terus bergerak dan belum menemukan bentuk akhirnya. Cahaya samar dalam makna semburat merefleksikan transisi identitas yang sedang berlangsung.
“Semburat menggambarkan sesuatu yang belum final, masih berubah-ubah,” kata Samuel.
Isu kemacetan lalu lintas menjadi salah satu sorotan tajam dalam pameran ini. Seniman Sukarya menuangkan kritiknya melalui karya bernuansa hitam pekat berbentuk bulat menyerupai sumbat, sebagai simbol terhambatnya ruang hidup masyarakat akibat ledakan kendaraan.
Sementara itu, Wahyu Sena mengangkat nilai gotong royong yang kian terpinggirkan oleh ritme kerja dan tuntutan ekonomi. Lewat lukisannya, Wahyu merekam momen kebersamaan warga dalam prosesi upacara tradisional di sela kesibukan sehari-hari.
“Nilai-nilai kemanusiaan seperti gotong royong ini justru sering terlupakan,” ujar Samuel menjelaskan karya Wahyu.
Direktur Labyrinth Art Gallery Kelsang Dolma menegaskan pameran ini menjadi bagian dari tanggung jawab moral galeri terhadap konteks lokal Bali. Menurutnya, seni tradisi dan seni kontemporer seharusnya saling berdampingan, bukan saling meniadakan.
“Labyrinth berkomitmen menyediakan ruang bagi seniman lokal untuk merespons zamannya secara jujur dan berani,” tutup Kelsang.





















































