DENPASAR, BERITA DEWATA – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya mewujudkan Bali mandiri energi berbasis energi bersih dalam pelaksanaan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125.
Penegasan itu disampaikan Koster saat meresmikan dimulainya pelaksanaan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Senin (22/12).
Menurut Koster, kemandirian energi menjadi poin ke-12 dalam haluan pembangunan Bali yang bersifat strategis dan tidak bisa ditawar. Ia menolak ketergantungan Bali terhadap pasokan listrik dari luar pulau karena berisiko tinggi terhadap keamanan energi.
“Awalnya PLN akan menambah lagi pasokan listrik sekitar 500 megawatt dari Paiton ke Bali. Saya tidak setuju,” tegas Koster.
Koster menjelaskan, ketergantungan listrik dari luar Bali yang disalurkan melalui kabel bawah laut justru menjadi ancaman serius. Kabel bawah laut dinilainya sangat rawan terhadap gangguan, baik akibat aktivitas kapal, penangkapan ikan, maupun faktor teknis lainnya.
“Kalau Bali terus ditambah dari luar dan dihubungkan dengan kabel bawah laut, itu rawan. Kabel bawah laut bisa rusak, tertabrak kapal, atau faktor lainnya. Ini menyangkut keamanan energi Bali,” ujarnya.
Sebagai solusi, Koster menyampaikan bahwa mulai tahun 2026, PLN akan membangun pembangkit tenaga listrik di Bali dengan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan. Kebijakan tersebut, kata Koster, sudah menjadi keputusan dan kebijakan direksi PLN serta telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Nasional (RUPTL).
“Mulai 2026 PLN akan membangun pembangkit listrik di Bali. Tidak boleh lagi berbasis bahan bakar fosil. Minimal menggunakan gas dan energi baru terbarukan,” jelasnya.
Dalam rencana lima tahun ke depan, total kapasitas pembangkit yang akan dibangun di Bali mencapai 1.550 megawatt. Dengan kapasitas tersebut, Koster optimistis Bali akan mampu memenuhi kebutuhan listriknya secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan dari luar pulau.
“Kalau ini sudah terwujud, saya kira Bali akan mandiri energi dengan energi bersih. Yang paling penting, tidak menimbulkan polusi udara dari pembangkit listrik,” kata Koster.
Ia menegaskan, kemandirian energi bukan hanya soal kecukupan pasokan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, serta keberlanjutan pembangunan Bali dalam jangka panjang.





















































