Raja-Raja Nusantara Bersatu, Optimis Indonesia Maju

    Musyawarah Agung I, Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Menjadi Marwah Budaya Persatuan, Kebhinekaaan Tunggal dan Potensi Ekonomi untuk Optimis Indonesia Maju

    DENPASAR, BeritaDewata – Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Terpilih priode 2019 -2024, Presiden Joko Widodo memberikan perhatian dan dukungan yang tinggi terhadap budaya. Selama ini, Indonesia dikenal seluruh dunia memiliki kekayaan alam dan kebudayaan. Keberadaan kerajaan dan keraton seNusantara yang sejak zaman dulu dengan kisah sejarah tentang kejayaan merupakan amanah dan marwah budaya adi luhung milik Indonesia.

    Dan Presiden Jokowi menaruh perhatian besar pada kebeadaan kerajaan dan keraton Nusantara melalui pertemuan yang berlangsung di Istana Negara Bogor pada 4 Januari tahun lalu. Dalam pertemuan tersebut, saat itu Jokowi berpesan agar para sultan, raja, pangeran dan pemangku adat keraton-keraton Nusantara, untuk terus menjaga, merawat dan melestarikan
    warisan nilai-nilai budaya adiluhung Indonesia.

    Menurut Jokowi pihak kerajaan dan keraton seNusantara tidak boleh berhenti hanya pada membangga-banggakan kejayaan masa lalu, tapi ke depannya harus bisa menjadikan warisan nilai budaya para pendahulu kita sebagai modal budaya untuk menghadapi tantangan bangsa Indonesia. Perlu diingat nilai-nilai budaya keraton yang adiluhung adalah bekal untuk melangkah maju dan penyemangat menghadapi persaingan global yang semakin sengit.

    Senada dengan imbauan dan dukungan Jokowi terhadap kebudayaan yang belakangan kian gencar didengungkan, apalagi setelah terpilihnya sebagai Presiden Indonesia priode 2019-2024, melalui Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) yang terbentuk hari ini, Selasa, 6 Agustus 2019 membawahi seluruh kerajaan dan keraton seluruh Indonesia.

    Dalam Musyawarah Agung I yang berlangsung selama dua hari pada 6 hingga 7 Agustus 2019 di Hotel Ibis Style Denpasar, Bali melantik kepengurusan MAKN. Tujuan musyawarah ini paska Pilpres 2019 dan dengan terpilihnya Presiden Jokowi yaitu MAKN akan membenahi masa depan keberlangsungannya demi menjaga marwah budaya Indonesia dan ikut berpartisipasi untuk masa depan optimis Indonesia maju.

    Dra. R. Ay Yani WSS Kuswododjojo, Penganggeng Kasunanan Sumenep

    Menurut Dra. R. Ay Yani WSS Kuswododjojo, Penganggeng Kasunanan Sumenep sejak tanggal 5 Agustus 2019 berkumpul seluruh Raja, Pangeran, Putri dari seluruh Kerajaan dan Keraton seNusantara di Bali untuk mengikuti acara musyawarah agung I Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN).

    Dan wanita yang bisa disapa Bunda Yani ini menjelaskan MAKN merumuskan lima syarat utama untuk menghindari potensi kemunculan raja atau ratu yang mengaku-aku tanpa ada jejak dan sejarah kerajaannya.

    “Karena itu ada rumusan penting yang harus dimiliki sebuah kerajaan dan keraton yakni adanya lima syarat pertama ada atau memiliki istana atau keraton atau puri, lalu ada raja yang ditabalkan atau dinobatkan, syarat ketiga ada dan memiliki sisillah turun temurun, syarat keempat punya lambang pusaka atau ada situs kerajaan atau keratonnya dan kelima ada masyarakat adatnya.

    Menurut PYM Ida Tjakarda Jambe Pemecutan, SH, Raja Denpasar IX, kelima syarat ini menjadi hal yang sangat penting untuk menghindari kemunculan raja, pangeran atau ratu yang abal-abal atau tidak valid.

    Kata Bunda Yani, wanita berjilbab yang selalu tampil fashionable dengan kain Indonesia ini, melalui lima syarat penting tadi akan menjadi dasar kuat sebuah kerajaan atau keraton yang mendukung Persatuan Kesatuan dan Kesatuan NKRI semakin kokoh.

    Bunda Yani mengatakan sesuai pesan Presiden Jokowi ke depannya seluruh raja, sultan seNusantara atau seluruh Indonesia menjadi benteng budaya yang ikut bertanggungjawab mengajak seluruh masyarakat bergotong royong membangun bangsa.

    Bunda Yani yang sering menjadi narasumber tentang bidang kerajaan dan keraton Indonesia juga mengatakan dalam musyawarah agung I MAKN ini akan mengajak kalangan muda atau Milenial untuk peduli pada budaya bangsa khususnya pada kerajaan dan keraton Indonesia.

    Menurut Bunda Yani saat ini mulai dilakukan hal-hal yang mengarah pada minat dan perhatian kalangan Milenial seperti bidang digital, entrepreneur atau kewirausahaan yang semuanya merekatkan kepedulian pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia yang berkaitan dengan Kerajaan atau Keraton seNusantara.

    Sementara itu Raja Denpasar IX, PYM Ida Tjakarda Jambe Pemecutan, SH mengatakan yang perlu diingat dan digarisbawahi keraton atau kerajaan Indonesia sangat diperhatikan Presiden Jokowi yang peduli dan mendukung tentang budaya. Keraton atau kerajaan merupakan akar budaya yang memiliki aset penting di dalamnya seperti tentang tradisi, pakaian, kuliner, hikayat cerita dan sejarah seribu Raja, Jalur Rempah yang semua ini bisa digaungkan dengan kondisi kekinian atau zaman sekarang yang melibatkan kalangan millenial atau anak muda yang dekat dengan bidang teknologi digital.

    PYM Ida Tjo Korda Ngurah Jambe Pemecutan, SH. Raja Denpasar SH Puri Denpasar

    “Akan banyak program dan kegiatan yang akan kita lakukan dengan menggandeng atau mengajak semangat Kalangan Milenials. Nantinya program atau kegiatan ini akan menggunakan teknologi digital seperti You Tube, media sosial dan hal-hal atau kebiasaan yang dilakukan anak zaman sekarang.” imbuh Bunda Yani.

    Sementara Kanjeng Pangeran (KP) Eddy Wirabhumi, dari Keraton Kasunanan Surakarta mengatakan paska Pilpes semua komponen bangsa yang terpolarisasi harus Bersatu. Dan KP Eddy mengatakan penggiat kebudayaan dan kebhinekaan, dengan adanya keraton-keraton adalah pusat peradaban dari seluruh proses dari peralihan zaman.

    Keberadaan kerajaan dan keraton merupakan hak asasi kebudayaan yang dlindungi UU Kebudayaan, tercatat juga dalam UU Cagar Budaya dengan persepsi kebhinekaan dan kebangsaan yang harus kembali kepada spirit atau semangat Bhineka Tunggal Ika yang mengutamakan persatuan di atas semua kepentingan.

    KP Eddy yang merupakan suami G.K.R Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta ini mengatakan, Sekarang saatnya para pelaku penggiat budaya untuk mengingatkan spirit bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika yang asli menyatu bergandengan tangan untuk mengingatkan berbeda-beda disatukan dengan baju dan budaya Indonesia.

    “Justru keindahan kita karena keberagaman. Dan kita harus memilah yang satu visi satu jiwa, bukan berarti menolak tetapi kita menyatukan yang sevisi dengan Bhineka Tunggal Ika.” Tegasnya.

    KP Eddy juga sedikit mengulas tentang peran kerajaan dan keraton terhadap bangsa dan negara Indonesia yang sudah ada ikut berperan penting sejak zaman kemerdekaan. Dalam Dokumen BPUPKI yang mengkonsep bangsa Indonesia, kehadiran pihak kerajaan dan keraton di Indonesia terlibat langsung.

    Kata KP Eddy, pada era tahun 45 berbeda dengan zaman sekarang. Karena itu perlu sikap yang bijak dan mengena yang dilakukan sesuai dengan zaman kini. “Rasa cinta kebudayaan dan kebhinekaan ini akan menekan masuk atau tumbuhnya ancaman serius bangsa Indonesia saat ini seperti radikalisme dan intoleransi.” Imbuh KP Eddy.

    “Sekarang, kita tidak bisa hanya melawan secara fisik seperti era perjuangan. Sekarang, kita melakukan perlawanan dengan knowledge atau ilmu pengetahuan tentang peninggalan nilai-nilai luhur kita akan diungkapkan tidak sebatas penguatan negara dan bangsa.” Ujar KP Eddy kembali menegaskan.

    “Justru kita mempersiapkan menuju ke arah Indonesia menjadi negara yang bisa mandiri dalam tiga aspek penting yaitu pangan, energi dan keuangan,” kata KP Eddy.

    Melalui MAKN yang memiliki sekitar 56 kerajaan dan keraton seNusantara, kata KP Eddy seharusnya mampu melakukan peran penting untuk mewujudkan Indonesia bermandiri dalam tiga aspek penting di atas. “Cara yang bisa dilakukan keberadaan kerajaan atau keraton seNusantara bisa melakukan peran budaya, pariwisata dan potensi ekonomi.” imbuhnya.

    KP Eddy juga menegaskan keberadaan kerajaan atau keraton tercantum dalam konvensi internasional ILO dan ada di amandemen UUD 1945 yaitu negara mengakui dan menghormati keberadaan kerajaan atau keraton.

    Ke dua konvensi ini menjadi acuan penting adanya pengakuan dari dunia internasional dan nasional. Tentunya seiring dengan perkembangan zaman keberadaan kerajaan atau keraton yang di tahun 1945 harus luwes mengikuti perkembangan era sekarang.

    KP Eddy meyakini melaui tiga peran yaitu Budaya, Pariwisata dan Potensi Ekonomi, tentu dilakukan mapping atau pemetaan potensi kekuatan kerajaan atau keraton seNusantara. “Indonesia dengan keberadan kerajaan atau keraton akan mampu mewujudkan Indonesia yang mandiri,” kata dia.

    Di dalam peran potensi Ekonomi misalnya, dari seluruh kerajaan dan keraton di Indonesia memiliki kandungan pada mineral berkwalitas yang di masa depan menjadi idola dunia. Satu keunggulan yang dimiliki Indonesia ini, menurut KP Eddy adalah kerajaan dan keraton seNusantara yang memiliki teknologi adiluhung para raja sejak kedigjayaannya di masa lalu yang tidak dimiliki bangsa lain.

    Dan untuk era sekarang, dengan melibatkan Kaum Milenilas, Eddy sependapat dengan Bunda Yani yakni perlu dilakukan kegiatan atau program yang mendekatan dengan teknologi digital, start up (potensi ekonomi bisnis yang dijalankan dan dikembangkan kaum muda) tanpa mengabaikan kearifan lokal budaya setempat.

    Menurut KP. Eddy, pelestarian sejarah dan budaya agar tetap dipertahankan sebagai budaya Indonesia sesuai pesan Presiden Jokowi bahwa kebudayaan itu penting dan menjadi jati diri bangsa.Dengan adanya kerajaan dan keraton seIndonesia merupakan hal yang harus dipertahankan karena salah satunya kerajaan dan keraton sebagai indentitas bangsa Indonesia.

    KP Eddy juga menegaskan tentang perlu dilakukan revitalisasi kerajaan dan keraton dengan dua target revitalisasi fisik dan non fisik, Menurutnya, pada revitalissai fisik adalah bagunan keraton dan benda cagar budaya. Sementara non fisik adalah kesenian, adat tradisi dan kearifan lokal budaya setempat.

    Ke depannya, dalam pembangunan pariwisata, KP Eddy menegaskan pentingnya pengembangan literasi berwawasan budaya, revitalisasi peran kota dan sejarahnya, nilai budaya dan tradisi, kearifan lokal, serta pembangunan sumber daya manusia dan kesejahteraan.

    Sebarkan Berita ini

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here