Kebhinekaan Indonesia Teruji dalam Pilkada DKI

Putri Proklamator RI Sukmawati

Beritadewata.com, Denpasar – Putri Proklamator RI Sukmawati berbicara blak-blakan soal Pilkada DKI. Saat ditemui di Museum Bung Karno Denpasar, Selasa (25/04/2017), Sukmawati secara tegas jika kebhinekaan dan keberagaman Indonesia semakin tergerus oleh aliran radikalime Indonesia yang mengatasnamakan agama tertentu.

“Ada catatan sejarah yang mungkin terlupakan dimana ajaran atau ideologi tentang kebhinekaan di Indonesia semakin terlupakan. Ajaran ini semakin memudar sejak era Soeharto. Saya menilainya jika penyebabnya adalah karena kebhinekaan itu tidak sering dirayakan di Indonesia dan jiwa dari kebhinekaan itu tidak sering dikumandangkan,” ujarnya.

Perbedaan ideologi dari berbagai aliran garis keras terus berjalan. Padahal sejarah telah membuktikan bahwa Soekarno sendiri telah tegas berbicara bahwa Indonesia tidak bisa menjadi negara Islam.

“Sejak Perayaan Sumpah Pemuda Tahun 1928, dimana Indonesia berikrar bahwa negara ini bukan hanya berasal dari satu golongan agama tertentu. Perjuangan kemerdekaan Indonesia itu bukan hanya dari kelompok etnis tertentu, agama tertentu, tetapi berasal dari semua elemen anak bangsa, dari Islam, Kristen, Katolik, Tiong Hoa, Hindu, Budha dan sebagainya. Jadi Indonesia ini tidak bisa jadi negara Islam. Kalau ada orang yang ingin memproklamirkan negara Islam, saya pertanyakan itu, dan saya koq heran kenapa ada seperti itu,” ujarnya. Seluruh elemen bangsa ini harusnya sadar bahwa ideologi kebhinekaan itu tidak pernah akan mati. Sejarah itu tidak bisa hilang.

Saat ini perlu ada kaderisasi dari seluruh elemen bangsa, mulai dari Islam melalui masjid, katolik dan kristen melalui gereja dan seterusnya. Generasi muda di seluruh lapisan dan agama perlu ada kaderisasi. “Di masjid harus diajarkan soal persaudaraan, soal kebhinekaan melalui kotbah-kotbah. Begitu juga di gereja, sekolah, lembaga-lembaga lainnya. Indonesia perlu kader bangsa yang setia sepanjang abad. Ini upaya menciptakan rasa persaudaraan yang solid di antara anak bangsa,” ujarnya.

Kaderisasi itu harus rutin. Jangan sampai memudarkan jiwa dari Sumpah Pemuda itu sendiri. Sebagai negara Islam, negara atau pemerintah harus menciptakan kesejahateran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Hal ini sudah dimulai dari Arab Saudi sendiri dimana negaranya mulai membuka lapangan kerja, membantu masyarakat desa yang miskin sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam.

Selain itu, dalam Pilkada DKI baru-baru ini, kebhinekaan itu pun teruji. Faktanya, banyak orang Jakarta, orang Betawi asli masih berpikir bahwa pemimpin Indonesia itu harus muslim, bukan dari orang non muslim dan apalagi Tiong Hoa.

“Sejarah membuktikan bahwa banyak kaum radikal Indonesia yang masih anti terhadap Tiong Hoa. Mereka beranggapan bahwa orang Tion Hoa itu silahkan berdagang, tetapi jangan sibuk dengan urusan politik. Tahun 1998, saat awal reformasi, banyak orang Tionh Hoa yang menjadi korban, tokonya dibakar, para wnaita dilecehkan dan seterusnya,” ujarnya.

Selama proses suksesi, hampir seluruh masjid yang berbasiskan islam radikal, dalam kotbahnya secara terang-terangan meminta kepada umatnya agar tidak pilih Aho karena Ahok itu non muslim dan Tiong Hoa.

“Rumah saya dekat masjid. Saya dengar sendiri dalam kotbah jumat tentang ajakan untuk tidak memilih Ahok. Ini berbahaya bagi kebhinekaan Indonesia,” ujarnya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here