IJN Jadi RS Pertama di Asia Pakai Sistem Ablasi Canggih untuk Atasi Fibrilasi Atrium

DENPASAR, BERITADEWATA.COM – Institut Jantung Negara (IJN) mencetak sejarah baru di bidang kardiologi. Rumah sakit jantung nasional Malaysia itu menjadi yang pertama di Asia yang secara klinis menggunakan sistem pemetaan dan ablasi terbaru untuk menangani fibrilasi atrium (AFib).

Teknologi yang dimaksud adalah Affera Prism-2 System yang dipadukan dengan kateter Sphere-9 Catheter. Sistem ini mengintegrasikan perangkat lunak pemetaan jantung canggih dengan teknologi ablasi energi ganda dalam satu platform terpadu.

Direktur Utama IJN, Prof. Dato’ Sri Dr. Mohamed Ezani Md Taib, mengatakan pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam komitmen menghadirkan inovasi terapi jantung berstandar global di Malaysia.

“Menjadi rumah sakit pertama di Asia yang secara klinis menggunakan sistem ini mencerminkan komitmen kami untuk menyediakan terapi jantung terkini bagi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (25/2/2026).

Tangani 11 Pasien, Efektivitas Tembus 74 Persen

Penggunaan klinis sistem tersebut diawali melalui lokakarya terstruktur. Dalam tahap awal, lima prosedur ablasi pada pasien dengan fibrilasi atrium persisten berhasil dilakukan.

Hingga kini, IJN telah menangani total 11 pasien menggunakan platform tersebut. Seluruh tindakan dilakukan oleh tim elektrofisiologi berpengalaman dengan tata kelola klinis ketat dan pemantauan hasil berkelanjutan.

Berdasarkan uji klinis internasional acak yang melibatkan lebih dari 400 pasien fibrilasi atrium persisten, tingkat efektivitas utama mencapai 74 persen. Angka ini bahkan meningkat menjadi 80 persen setelah operator melewati fase pembelajaran awal.

Dari sisi keselamatan, tingkat kejadian efek samping utama tercatat sebesar 1,4 persen pada populasi pasien kompleks, tanpa laporan komplikasi besar yang bersifat katastrofik.

Teknologi Energi Ganda, Prosedur Lebih Presisi

Sistem ini dinilai revolusioner karena mampu menghantarkan dua jenis energi sekaligus, yakni energi radiofrekuensi termal dan energi medan berdenyut (pulsed field) non-termal dalam satu platform yang sama.

Pendekatan ini memungkinkan dokter menargetkan jaringan jantung abnormal penyebab AFib secara lebih presisi, sekaligus meminimalkan dampak pada jaringan sehat di sekitarnya. Selain itu, integrasi pemetaan, ablasi, dan validasi dalam satu sistem membuat prosedur lebih efisien serta memangkas waktu tindakan.

Datuk Dr. Azlan Hussin, Konsultan Kardiologi Senior dan Direktur Klinis Elektrofisiologi Intervensi & Perangkat Implan IJN, menyebut fibrilasi atrium sebagai kondisi progresif yang menantang.

“Integrasi pemetaan canggih dengan teknologi ablasi energi ganda memungkinkan terapi yang lebih terpersonalisasi. Ini berpotensi meningkatkan luaran klinis dan memberi harapan baru bagi pasien dengan gangguan irama jantung persisten,” ujarnya.

Perkuat Posisi Sebagai Rujukan Regional

Fibrilasi atrium sendiri merupakan gangguan irama jantung paling umum di dunia, yang memengaruhi lebih dari 60 juta orang secara global. Jika tidak ditangani, kondisi ini meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, hingga rawat inap berulang.

Dengan adopsi platform generasi terbaru ini, IJN memperkuat posisinya sebagai pusat rujukan regional untuk prosedur elektrofisiologi tingkat lanjut di Asia.

Langkah ini sekaligus memastikan pasien di Malaysia dapat mengakses terapi jantung canggih tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here