I.League Sosialisasikan Peluang Karier Industri Sepak Bola Lewat Program BRI Goes to School di Badung

Ki-Ka : Kepala SMA Negeri 2 Kuta Utara I Ketut Supardanayasa, Manager Corporate Share Value (CSV) I.League, Hanif Marjuni saat kegiatan sosialisai di SMA Negeri 2 Kuta Utara, Rabu (11/03)

BADUNG, BERITA DEWATA – Operator kompetisi sepak bola nasional I.League terus mendorong generasi muda mengenal luasnya peluang karier di industri sepak bola. Melalui program BRI Goes to Campus dan BRI Goes to School, I.League menyosialisasikan bahwa sepak bola tidak hanya tentang pemain di lapangan, tetapi juga industri besar dengan berbagai profesi di balik layar.

Pada musim ini, kegiatan tersebut digelar di sejumlah kota yang menjadi basis klub Liga 1 Indonesia. Di Bali, program dilaksanakan di dua lokasi, yakni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja untuk kegiatan kampus dan SMA Negeri 2 Kuta Utara Kabupaten Badung, pada Rabu (11/3/2026) dan diikuti para siswa yang memiliki minat terhadap dunia olahraga, khususnya sepak bola.

Manager Corporate Social Value (CSV) I.League, Hanif Marjuni, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan sepak bola sebagai bagian dari industri olahraga global yang memiliki dampak ekonomi besar.

“Tahun lalu kami bekerja sama dengan Berry Research Institute dan hasilnya menunjukkan bahwa perputaran uang dalam industri sepak bola di Indonesia mencapai sekitar Rp10,4 triliun per tahun,” ujarnya.

Menurut Hanif, angka tersebut menunjukkan bahwa industri sepak bola memiliki ekosistem yang luas dan membuka banyak peluang kerja bagi generasi muda.

“Kalau ingin sejahtera dari sepak bola, sekarang tidak harus menjadi atlet. Ada banyak profesi yang bisa digeluti, seperti media officer, marketing officer, media manager, hingga bidang legal,” jelasnya.

Melalui program ini, mahasiswa dan pelajar diajak memahami bahwa industri sepak bola tidak hanya berfokus pada pertandingan, tetapi juga melibatkan berbagai sektor pendukung seperti media, manajemen, hingga pemasaran olahraga.

Pemilihan kampus dan sekolah sebagai lokasi kegiatan juga dilakukan secara selektif. I.League menargetkan institusi pendidikan yang memiliki prestasi serta potensi dalam pengembangan generasi muda di bidang olahraga.

Beberapa kampus dan sekolah yang sebelumnya menjadi lokasi kegiatan antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Universitas Negeri Padang, serta sejumlah SMA unggulan seperti SMA 4 Bandung, SMA 3 Malang, SMA 1 Padang, dan SMA 1 Lampung.

Program ini mendapatkan respons positif dari mahasiswa dan pelajar. Banyak peserta yang mengaku baru mengetahui bahwa industri sepak bola memiliki ekosistem profesi yang luas.

“Rata-rata pertanyaan dari mahasiswa sama, mereka bertanya apa yang harus dipersiapkan jika ingin terjun ke industri sepak bola. Artinya mereka punya minat, tetapi belum tahu harus mulai dari mana,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, konsep kegiatan untuk mahasiswa dan siswa dibuat berbeda. Di kampus, kegiatan dikemas dalam bentuk seminar dan diskusi yang lebih mendalam mengenai industri sepak bola. Sementara di sekolah, kegiatan lebih bersifat edukatif dan interaktif agar siswa lebih mudah memahami peluang karier di bidang olahraga.

Tahun ini program tersebut menargetkan pelaksanaan di 18 kota, mengikuti keberadaan klub yang berkompetisi di Liga 1 Indonesia.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Kuta Utara, I Ketut Supardanayasa, menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai mampu memberikan wawasan baru kepada siswa terkait peluang karier di dunia olahraga.

Ia mengatakan dalam empat tahun terakhir sekolahnya memang fokus pada pembinaan olahraga, khususnya sepak bola. Bahkan beberapa siswa berhasil menembus level nasional.

“Buktinya tiga pemain tim nasional U-17 merupakan siswa kami, termasuk sang kapten. Selain itu ada juga beberapa siswa yang sudah bermain di Elite Pro Academy,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan edukasi kepada siswa bahwa dunia kerja tidak hanya terbatas pada pekerjaan kantoran, tetapi juga dapat berkembang melalui industri olahraga.

Sekolah juga memberikan dukungan bagi siswa yang berstatus atlet dengan memberikan fleksibilitas dalam proses belajar. Para atlet tetap mengikuti pelajaran, namun pembelajaran dapat dilakukan secara daring ketika mereka menjalani latihan atau kompetisi.

Ke depan, pihak sekolah berharap Bali dapat memiliki sekolah khusus olahraga untuk mendukung pengembangan atlet muda di daerah.

“Mudah-mudahan ke depan ada sekolah khusus olahraga di Bali. Selama ini jalurnya masih digabung dengan jalur akademik, padahal atlet juga membutuhkan ruang untuk berkembang,” harapnya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here