BADUNG, BERITADEWATA.COM – Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 yang ke-12 siap digelar di Bali International Convention Centre – The Westin Resort & Spa Nusa Dua pada 28–30 Mei 2026. Kepastian tersebut disampaikan dalam kegiatan konferensi pers Road to BBTF 2026 yang berlangsung pada Senin (30/3/2026).
Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra, menyampaikan bahwa penyelenggaraan BBTF ke-12 ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan realitas industri, kebijakan, dan ekspektasi pasar global. Ia menekankan bahwa tema Indonesia Gastronomy Journey diangkat sebagai strategi untuk memperkenalkan Indonesia melalui pendekatan yang lebih kuat dan berkesan.
“Gastronomi adalah cara paling kuat untuk menceritakan Indonesia melalui rasa, budaya, dan identitas,” ujarnya. Ia menambahkan, di tengah ketidakpastian global, Indonesia harus mampu menjaga kepercayaan pasar internasional melalui konsistensi, kolaborasi, dan kesiapan.
BBTF 2026 juga disebut akan semakin terbuka bagi para seller, khususnya dari daerah dengan potensi pariwisata yang ingin berkembang di pasar global.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Ni Made Ayu Marthini, menekankan pentingnya promosi berkelanjutan, terutama melalui digital marketing. Menurutnya, promosi harus dilakukan secara konsisten karena dampaknya tidak instan.
“Promosi itu harus terus dilakukan, karena hasilnya baru terlihat enam bulan sampai satu tahun ke depan,” katanya. Ia juga menyoroti pentingnya konektivitas sebagai faktor kunci dalam mendukung pergerakan wisatawan internasional.
Pemerintah saat ini terus mendorong pembukaan rute penerbangan baru ke berbagai destinasi prioritas seperti Lombok, Yogyakarta, Danau Toba, dan Labuan Bajo, dengan Bali tetap berperan sebagai hub utama.
Dari sisi diplomasi, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Heru Hartanto Subolo, menegaskan pentingnya membangun kepercayaan global melalui kolaborasi internasional. Ia menyebut konektivitas dan stabilitas global sangat memengaruhi arus wisatawan, terutama di tengah disrupsi transportasi akibat konflik geopolitik.
“Kerja sama internasional menjadi penting agar wisatawan memiliki akses yang aman dan nyaman ke Indonesia,” ujarnya. Ia juga menilai pendekatan budaya dan kuliner dapat menjadi jembatan dalam memperkuat hubungan antarnegara, karena mampu menciptakan komunikasi yang lebih cair.
Ketua Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menyoroti bahwa tantangan pariwisata saat ini tidak lagi sekadar mengejar jumlah kunjungan, tetapi kualitas pertumbuhan.
Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan pariwisata global berada di kisaran 4 persen, sementara Indonesia mencapai sekitar 12 persen dan Bali 10 persen, yang menunjukkan tingginya minat terhadap destinasi ini.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bertumbuh, tetapi apakah kita bertumbuh dengan cara yang benar,” katanya.
Ia menambahkan bahwa wisatawan saat ini semakin kritis dan menuntut pengalaman yang menyeluruh, mulai dari kedatangan di bandara hingga kualitas layanan dan rasa aman selama berada di destinasi. Oleh karena itu, pengembangan zonasi seperti culture zone, leisure zone, dan entertainment zone menjadi penting untuk menciptakan pengalaman yang lebih terarah.




















































