Teknologi Emulsi Jaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Ni Luh Putu Putri Setianingsih (tengah) dalam Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Pertanian di Universitas Udayana, Rabu (18/2/2026).

DENPASAR, BERITA DEWATA – Limbah kulit jeruk siam Kintamani yang selama ini kurang dimanfaatkan kini mendapat perhatian serius melalui pendekatan teknologi pangan. Upaya ini dinilai penting karena kulit jeruk mengandung senyawa bioaktif bernilai tinggi yang berpotensi dikembangkan oleh petani maupun industri lokal di Bali.

Temuan tersebut dipaparkan oleh Ni Luh Putu Putri Setianingsih dalam Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Pertanian di Universitas Udayana, Rabu (18/2/2026). Putri yang juga akademisi di Universitas Warmadewa ini memulai risetnya melalui analisis molekuler DNA barcoding menggunakan marker matK.

Hasil analisis menunjukkan jeruk siam Kintamani memiliki kedekatan genetik tertinggi dengan Citrus junos sebesar 99,41 persen. Meski belum membentuk klade monofiletik sempurna, secara ilmiah komoditas ini direkomendasikan sebagai Citrus sp. atau Citrus cf. junos.

Penelitian kemudian berlanjut pada proses isolasi minyak atsiri menggunakan metode distilasi uap. Hasilnya, diperoleh rendemen rata-rata 0,237 persen dengan aroma sitrus yang kuat. Berdasarkan analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), minyak atsiri tersebut didominasi senyawa monoterpena seperti d-Limonene, linalool, beta-myrcene, dan sabinene.

Namun, senyawa tersebut memiliki volatilitas tinggi dan rentan mengalami degradasi oksidatif jika terpapar lingkungan. Untuk mengatasi hal itu, Putri menerapkan teknologi formulasi emulsi sebagai sistem penghantaran.

“Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas sekaligus melindungi senyawa aktif dari oksidasi dan hidrolisis,” ujarnya.

Dalam formulasi, digunakan kombinasi surfaktan Tween 80 dan Span 80 serta kosurfaktan PEG 400 guna mencapai keseimbangan hidrofilik-lipofilik optimal. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi minyak atsiri 3 persen menghasilkan performa terbaik.

Secara fisik, emulsi tersebut memiliki stabilitas tinggi dengan pH normal 6–7 tanpa pemisahan fase maupun endapan. Pengamatan mikroskopis juga menunjukkan distribusi droplet yang seragam sehingga mendukung efektivitas biologis.

Dari sisi kimia, formulasi ini memiliki kadar total fenol tertinggi mencapai 186,77 mgGAE/100 mL. Uji aktivitas antioksidan методом DPPH menunjukkan nilai IC50 sebesar 196 ppm, menandakan kapasitas antioksidan yang signifikan.

Selain itu, emulsi mampu mempertahankan senyawa utama seperti d-Limonene dan linalool serta mengandung tambahan senyawa seperti beta-pinene dan nonanal.

Meski daya hambat terhadap bakteri Escherichia coli masih tergolong lemah dengan diameter 6,69 mm, sistem emulsi terbukti lebih efektif dalam menjaga stabilitas senyawa dibandingkan minyak atsiri murni.

Riset ini tidak hanya memperkuat identitas genetik jeruk siam Kintamani, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Ke depan, penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji pengaruh suhu dan cahaya terhadap stabilitas emulsi, serta uji in vivo guna memastikan efektivitasnya dalam sistem biologis yang lebih kompleks.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here