Warga Pesangaran Ancam Tutup TPA Suwung

Ki-Ka : Putu Sucipta dan I Wayan Widiada

Beritadewata.com, Denpasar – Warga Kecamatan Denpasar Selatan atau tepatnya di Desa Kelurahan Pesanggaran mengeluhkan bau busuk sampah dari TPA Suwung yang tidak dikelolah dengan baik. Kelian Adat Desa Pesanggaran I Wayan Widiada menjelaskan, pengolahan sampah di TPA Suwung yang belum tepat sasar menyebabkan warganya menjadi korban selama 25 tahun terakhir.

“Kondisi yang paling dirasakan masyarakat adalah adanya bau busuk yang justeru terjadi saat upacara besar keagamaan. Masyarakat tidak konsentrasi mengikuti upacara karena terganggu dengan bau busuk tak sedap dari sampah itu,” ujarnya di Denpasar, Senin (24/04/2017).

Menurutnya, pihak desa adat sudah minta petugas sampah untuk tidak bolak balik sampah saat upacara sedang berlangsung karena itu akan menyebarkan aroma yang tidak sedap sampai ke pemukimana warga. Namun peringatan atau permintaan itu rupanya tidak diindahkan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Denpasar yang membawahi TPA Suwung.

Baca Juga :  Sapi Bali Tak Bertanduk Dikembangkan di Sulsel

Menurutnya, protes warga terhadap sistem pengolahan TPA Suwung sudah dilakukan berkali-kali namun tidak ada hasil. Ia menilai, terbengkelainya manajemen pengolahan TPA Suwung terjadi karena konflik kepentingan politik antara Kota Denpasar dengan Pemprov Bali.

“Jadi konflik atau ketidakharmonisan antara bapa dan ibu yakni Pemprov Bali dengan Kota Denpasar maka yang menjadi korban adalah anak-anaknya,” ujarnya. Ia mengaku, setelah diteliti lebih dekat, ternyata sampah di TPA Suwung tidak dikelolah dengan sistem teknologi. Sampah-sampah yang masuk hanya ditumpuk, dipadatkan, lalu ditutup tanah.

Setelah itu sampah itu dibolak balik untuk kemudian ditumpuk lagi agar berubah menjadi kompos. Proses itulah yang menjadikan wilayah Suwung secara keseluruhan diserang aroma bau busuk. “Banyak warga yang mengeluhkan hal tersebut. Tapi pemerintah tidak bisa buat apa-apa karena teknologinya belum mencukupi,” ujarnya.

Baca Juga :  Periksa Kesiapan Tontangkas, Pangdam IX/Udayana Bentuk Kakak Asuh Dari Dandim

Sementara Kepala Lingkungan Pesanggaran Putu Sucipta mengatakan, pihak mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan masalah sampah di TPA Suwung. “Jangan sampai kami kehilangan kesabaran. Kami sudah sangat tersiksa selama 25 tahun dengan aroma yang tak sedap. Dimana-mana, tidak ada TPA yang berada di tengah kota apalagi Kota Provinsi Bali. Hanya ada di Bali,” ujarnya.

Padahal, Bali adalah destinasi wisata terkenal dunia. Lokasi TPA Suwung itu berdampingan dengan beberapa destinasi wisata dan fasilitas publik lainnya. Selatannya ada Pelabuhan Benoa dan Nusa Dua, baratnya ada Tol Bali Mandara dan Bandara Ngurah Rai, timurnya ada destinasi wisata Sanur dan sebagainya.

Ia meminta agar pemerintah segera mencarikan solusi terbaik untuk penanganan TPA Suwung. Solusi pertama adalah mencarikan investor untuk melakukan pengolahan sampah secara tepat, tidak bau busuk dan berguna bagi masyarakat.

Baca Juga :  Relawan PT BSI Bantu Korban Tsunami Banten

“Beberapa hari lalu anggota DPRD Kota Denpasar mendatangi TPA Suwung dari Partai Nasdem. Dijelaskan jika ada 20 investor yang berminat. Tetapi koq lama sekali eksekusinya. Ini ada apa. Sementara warga sudah lama menjadi korban,” ujarnya.

Solusi lain adalah TPA Suwung harus dipindahkan dari lokasi yang sekarang ini. Pemerintah silahkan mencari lahan yang baru entah dimana asalkan jauh dari pemukiman penduduk dan dikelolah secara maksimal.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here