Beritadewata.com, Denpasar – Keberhasilan pembangunan suatu bangsa tidak hanya dipengaruhi pada indikator pertumbuhan ekonomi saja. Pemanfaatan teknologi dan ragam penemuan terbaru yang terdaftar sebagai hak paten ikut memengaruhi kemajuan tersebut. Bahkan menjadi indikator dalam pengukuran daya saing suatu bangsa.
Berdasarkan data Kementerian Hukum dan HAM tercatat 34.000 jumlah hak paten terdaftar. Dari jumlah itu sebanyak 95 persen merupakan hak paten asing atau luar negeri. Hanya 5 persen yang merupakan hak paten dalam negeri. Padahal jumlah lembaga riset dan perguruan tinggi di Indonesia sangat banyak.
“Indonesia sangat membutuhkan sumbangan hak paten bagi kemajuan bangsa. Hal tersebut sangat potensial disumbangkan kalangan perguruan tinggi,” tegas Direktur PATEN, DTLST, dan RAHASIA DAGANG Kementerian Hukum dan HAM, Timbul Sinaga, dalam acara Workshop Paten, Selasa (14/2).
Menurutnya jumlah hak paten yang minim dihasilkan para akademisi menjadikan Indonesia lemah dalam penguasaan teknologi. Sekaligus menjadikan Indonesia rendah nilai daya saingnya dibandingkan negara-negara lain. Dia menyebutkan jumlah hak paten asing yang didaftarkan di Indonesia sangatlah banyak. Jumlah tersebut menjadikan karya inovasi bangsa asing tersebut lebih dikenal luas. Sekaligus menjadikan sumber pendapatan bagi negara tersebut.
“Pemerintah telah berupaya memberikan rangsangan kepada para inventor Indonesia. Agar mendaftarkan semua hak patennya. Sehingga bisa memberikan manfaat lebih,” ungkapnya.
Ia berharap perguruan tinggi lebih proaktif melakukan berbagai penelitian dan pengembangan di berbagai bidang untuk kemajuan anak bangsa. Tidak hanya memberikan dorongan bagi para peneliti perguruan tinggi untuk terus berkreatifitas, tetapi juga semakin sadar terhadap pentingnya mendaftarkan temuannya sebagai hak paten. Perlindungan terhadap hak paten telah diatur dalam UU No.13 Tahun 2016 tentang Hak Paten. Dalam regulasi tersebut sudah sangat tegas pada sisi perlindungan dan nilai manfaat bagi pemegang hak paten.
“Dengan demikian tidak hanya ada manfaat perlindungan intelektual saja, tetapi juga ada perlindungan ekonomi yang dilakukan pemerintah terhadap karya riset peneliti Indonesia,” paparnya.
Rektor Universita Mercu Buana (UMB), Arissetyanto Nugroho menambahkan posisi negara-negara maju memang begitu dominan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh karya riset yang didaftarkan sebagai hak paten. Dengan demikian penggunaan bangsa lain terhadap karya temuan itu memberikan manfaat bagi pemegang hak paten dan negara yang menerbitkan hak paten itu.
Tentu saja keterlibatan kalangan perguruan tinggi untuk melakukan riset menjadi saling terkait. Kegiatan riset yang merupakan amanat UU Pendidikan Tinggi menjadi bagian pula dari upaya meningkatkan jumlah hak paten.