Peduli Pendidikan Anak Desa Kurang Mampu, Komang Anik Sugiani : Ini Perjalanan Hati

Dr. Ni Komang Anik Sugiani bersama anak-anak di Yayasan Project Jyoti Bali (YPJB) (ist)

DENPASAR, BERITADEWATA – Kegiatan pembelajaran gratis anak putus sekolah yang diinisiasi Dr. Ni Komang Anik Sugiani dosen Politeknik Undiksha asal Desa Mengening di Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng mendapat apresiasi Astra SATU Indonesia Award 2021.

Sebagai tokoh muda desa yang menginspirasi Dr. Ni Komang Anik Sugiani dikenal sebagai seorang yang aktif rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk pendidikan informal anak-anak desa.

Apa yang dikerjakannya, Ni Komang menyebutnya sebagai perjalanan hati “cinta” karena dengan ketulusan hati itulah, semua bisa dilakukan dalam mewujudkan cita-citanya yakni tidak ingin melihat ada anak-anak di Bali putus sekolah.

Minatnya di pendidikan ditunjukkan dengan disiplin ilmu yang digeluti di bidang pembelajaran. “Dari S1 sampai S3, saya mengambil teknologi pembelajaran, agar tetap linier,” terangnya saat bincang santai dengan wartawan peserta Anugerah Pewarta Astra 2023 melalui zoom belum lama ini.

Dijelaskan Ni Komang Anik Sugiani, teknologi pembelajaran akan terus berkembang sehingga jurusan dipilih merupakan satu paket kesatuan yang nantinya akan bisa dilaksanakannya. Tidak bosan untuk terus bersemangat menginspirasi masyarakat, membuat Ni Komang Anik Sugiani meraih nominasi penerima anugerah SATU Indonesia Award 2021 dan 2022 untuk tingkat provinsi.

Pengolahan sampah plastik mengolah sampah, membuat Bata, ramah lingkungan, Eco Enzyme hingga bantal alas duduk.

Memiliki keyakinan bahwa membantu orang lain, tidak hanya cukup berwacana namun harus lewat aksi nyata. Banyak kesulitan dialami orang lain, tidak harus menunggu memiliki banyak materi dulu baru membantu, namun membantu sesama bisa melalui tenaga, pikiran dan apa saja.

Persoalan pendidikan yang menjadi perhatiannya, tidak hanya basa-basi, tetapi harus aksi nyata lewat tindakan nyata, yang sifatnya terus menerus secara konsisten. “Pendidikan itu bukan basa basi, bukan pencitraan, tetapi harus ada tindakan nyata dan dilakukan secara berkesinambungan secara terus menerus,” ujar nya.

Diketahui, Komang Anik Sugiani menceritakan awal mula merancang program pendidikan informal di kampung halaman, bersama teman-teman, berawal saat pandemi Covid-19, sekitar tiga tahun silam, program pendidikan di pedesaan dilatarbelakangi, banyaknya anak putus sekolah. Masalah terbesar karena masalah ekonomi, berdampak pada anak-anak putus sekolah.

Meski dengan keterbatasan kekurangan sumber daya, program pendampingan anak-anak putus sekolah di desa terus berjalan. Beruntung tokoh masyarakat lainnya perlahan memberi dukungan kepada upaya Komang Anik Sugiani dan teman-temannya.

Memulai dengan Program Taman Pintar yakni pendidikan gratis bagi anak-anak putus sekolah disusun dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat yang terbentur biaya sekolah.

Dibuatlah ide, biaya pendidikan anak-anak diganti dengan penukaran hasil pengumpulan sampah-sampah. Program ini juga untuk mengajarkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan.

“Anak-anak dilatih gratis, hanya membayar dengan sampah plastik yang berhasil dikumpulkan,dikelola Bank Sampah “ ungkap Komang Anik Sugiani.

Dibawah bendera Yayasan Project Jyoti Bali (YPJB) yang merupakan komunitas anak SMA atau yang tidak mampu sekolah SD dan SMP. Mereka yang diasuh YPJB diberikan pelajaran mengolah sampah, membuat Bata, ramah lingkungan, Eco Enzyme hingga bantal alas duduk.

Mereka para siswa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pembelajaran pelatihan dan mendapatkan uang saku, perlengkapan sekolah serta sembako.

Ni Komang Anik Sugiani terus menggalang dukungan, walau tidak sedikit orangtua yang belum percaya dengan kegiatan-kegiatan yang masih sebatas digerakkan komunitas.

Setelah aktif memalui platform media sosial, barulah kendala demi kendala bisa teratasi, terutama terkait kekurangan tenaga relawan atau volunter.

“Ketika sudah aktif di sosial media, kendala kami terpenuhi anak muda beberapa kampus jadi tutor,” terang Ni Komang.

Lewat kesungguhannya, Komang Anik Sugiani mampu meyakinkan banyak pihak hingga bersedia mengucurkan dana CSR untuk program pendidikan gratis di desanya melalui Yayasan Project Jyoti Bali (YPJB) yang didirikannya.

Berkat dukungan dari berbagai pihak itulah anak-anak putus sekolah yang diasuh sebanyak awalnya 2019 tercata 124, dan 32 diantaranya berasal dari keluarga kurang mampu di tiga desa sekitar yakni Desa Mengening, Bila dan Tajun.

Umumnya mereka yang lulus dari YPJB dan sekolah formal melanjutkan ke perguruan tinggi. Yang membanggakan, anak-anak asuhnya yang mengikuti pembelajaran gratis cukup banyak yang berprestasi di sekolahnya.

Meski semua pengorbanan waktu, tenaga, materi sudah didedikasikan untuk masa depan anak-anak di desa, namun Komang Anik Sugiani, merasa belum cukup. Dia ingin mengajak semua lebih peduli terhadap pendidikan anak-anak khususnya yang putus sekolah.

“Perjuangan tidak boleh berhenti, semua karena “cinta” saya tidak ingin melihat ada anak-anak di Bali putus sekolah.” tutupnya.

 

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here