Notaris ‘Nakal’ Diadukan, Penyidik Polda Bali Jadi Sorotan

Istimewa, net

DENPASAR, Berita Dewata – Kasus pengaduan dugaan penipuan dan penggelapan ditujukan terhadap notaris Putu Sarjana Putra, S.H memasuki babak baru.

Pengaduan dilayangkan I Nyoman Budiana 8 Agustus 2019 disebut-sebut statusnya belum juga naik menjadi laporan polisi (LP). Pihak pelapor sampai saat ini belum mendapat kepastian.

Meski kasus sang notaris ini sudah dikondisikan polisi namun tindakan penyidik yang menangani kasus ini menurut Drs. I Wayan Ardika, S.H, selaku kuasa hukum Budiana, dikatakan terkesan lambat.

“Saya melihat ada kesan lambat. Jadi seperti sengaja dilambat-lambatin. Kalau itu memang menunggu jadwal, jadinya seperti menunggu hujan di musim kemarau. Kapan turunnya ?,” singgung Ardika di halaman Mapolda Bali, Kamis (28/11)

Merasa ada keterlambatan ini pihaknya mengaku sampai mendatangi ruang penyidikan Reskrimum, guna mempertanyakan pengaduan kliennya lantaran sudah berjalan 3 bulan. Dan mengatakan kepada wartawan bahwa sekarang penyidik sudah cukup bukti melakukan gelar.

“Menurut penyidik tadi, kalau kemarin memang kurang dua saksi, sekarang Kalingnya sudah dipanggil untuk di-BAP, saya juga sudah di-BAP. Kan sudah cukup saksi dan alat buktinya,” terangnya.

Ardika berharap sesuai dengan surat kuasa penitipan, lantaran sertifikat itu sudah jadi, sesegera mungkin agar diserahkan ke klienya I Nyoman Budiana.

“Ini kan yang nitip siapa, yang diserahkan siapa. Kok berani notaris menyerahkan ke pihak lain.
Orang klien saya nitip surat untuk dipecah. Begitu juga udah dibayar biaya kewajibannya. Ya harus dikembalikan dulu. Masalah nanti ada hutang piutang itu urusan lain. Jangan dicampur aduk,” ingatnya.

Perlu diketahui dalam berita sebelumnya , kejadian ini bermula dari tahun 2015, tepatnya tanggal 10 September dimana dikabarkan Budiana membeli sebidang tanah seluas 12 are. Milik Ni Nyoman Sugiani senilai Rp 1,8 miliar.

Terhitung memberikan down payment (DP) sebesar Rp 1,530 miliar yang diterima I Made Suweda selaku suami dari Ni Nyoman Sugiani. Hal ini dikatakan sesuai kwitansi pembayaran dan surat pernyataan I Made Suweda.

Disebutkan, pada tanggal 29 Desember 2018, Nyoman Budiana menyerahkan SHM kepada notaris Putu Sarjana, SH untuk pengurusan pemecahan menjadi 4. Dengan tanda terima pada tanggal yang sama. Saat itu notaris Sarjana dikatakan berjanji akan menyelesaikan pemecahan SHM pada 30 Mei 2019.

“Disini, Pak Budiana telah membayar biaya pengurusan pemecahan SHM itu sebesar Rp 60 juta. Yang mana pada hari itu tanggal 29 Maret 2019 dibayar Rp 50 juta. Dan tanggal 30 April 2019 sisanya Rp 10 juta lagi. Ada bukti transfer SMS banking,” papar Ardika.

Terakhir, saat Nyoman Budiana meminta sertifikat yang sudah dipecah bersama salinan Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) dengan pemilik awal namun tidak digubris oleh notaris Putu Sarjana, SH.

Kabar berkembang, polisi telah melakukan langkah-langkah meminta keterangan sejumlah saksi termasuk notaris Putu Sarjana SH. Begitu juga pemilik lahan awal Ni Nyoman Sugiani bersama suaminya Made Suweda. Dan Nyoman Budiana selaku pengadu sebagai pembeli serta pemegang akte otentik punya kuasa menjual. (TIM)

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here