Konferensi Dunia ke-28 ISGF Digelar di Bali

Ka-Ki : Chairperson, ISGF Word Commitee, Mida Rodrigues, Ketua Umum HIPPRADA, Prof. DR. Haryono Suyono dan Wakil Ketua HIPPRADA, Paulus Tjakrawan

Denpasar – Sebanyak 66 negara siap mengikuti konferensi tingkat dunia bertajuk the 28th International Scout and Guide Fellowship (ISGF) World Conference yang diadakan di Hotel Inna Bali Beach, Sanur, Bali, 9-14 Oktober 2017. ISGF adalah organisasi tingkat dunia yang menaungi berbagai organisasi sejenis di banyak negara sebagai wadah bagi mereka yang pernah aktif di kepanduan dan masih tetap ingin hidup berdasarkan prinsip dan nilai-nilai kepanduan.

Sejumlah prinsip dan nilai-nilai kepanduan itu antara lain selalu bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban terhadap TUHAN sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya, setia kepada negara, selalu siap menolong sesama hidup, ikut serta membangun masyarakat, dan selalu berusaha untuk hidup sehat secara jasmani dan rohani, serta bersikap moral yang positif.

Keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah konferensi tingkat dunia tersebut diputuskan dalam konferensi sedunia ke-27 ISGF yang diadakan di Australia pada 2014. Selain mereka yang pernah aktif atau masih tetap aktif di kepanduan, anggotanya adalah juga orang dewasa yang mencintai gerakan pendidikan kepanduan dan siap ikut berperan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas.

Baca Juga :  Pererat Relasi Orang Tua-Anak, Faber Castell Gelar Family Art Competition

ISGF berdiri di Luzern, Switzerland, pada 25 Oktober 1953. Sampai 1996, organisasi itu bernama the International Fellowship of Fomer Scouts and Guides (IFOFSAG). Baru kemudian diubah menjadi ISGF.

Di Indonesia, organisasi nasionalnya bernama Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada). Dalam sejarah kepanduan di Indonesia, sejak 1961 seluruh organisasi gerakan kepanduan yang tadinya berjumlah banyak dihimpun dalam satu wadah bernama Gerakan Pramuka. Beberapa tokoh Pandu yang tidak bergabung dalam Gerakan Pramuka, mulai memunculkan ide untuk membentuk wadah tersendiri pada akhir 1960-an.

Namun masih membutuhkan beberapa tahun lagi, sehingga usulan itu mengerucut dan melalui pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, akhirnya resmi dibentuk Himpunan Pandu Wreda (Hiprada). Pembentukan itu dikukuhkan melalui Keputusan Kwartir Nasional bernomor 075/KN/1975 tertanggal 22 Juli 1975.

Baca Juga :  Pertama di Bali, Suryanation Motorland 2017 Wadahi Kreativitas Builder Lokal

Belakangan, penamaan organisasi diubah menjadi Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada), karena banyak pula mereka yang pernah aktif di Gerakan Pramuka namun tidak mengalami masa di kepanduan sebelum 1961, ikut bergabung. Sekarang, Hipprada terbuka untuk mereka yang berusia di atas 25 tahun, baik yang pernah maupun tidak menjadi Pandu atau Pramuka.

Saat ini, Hipprada dipimpin oleh Prof. Dr. Haryono Suyono, mantan Menko Kesra. Sedangkan di tingkat dunia, ISGF dipimpin oleh sebuah World Committee yang diketuai Mida Rodrigues. Agenda konferensi tingkat dunia di Bali kali ini antara lain akan membahas kandidat-kandidat negara yang bakal diterima sebagai anggota penuh ISGF. Ada lima negara yang diusulkan menjadi anggota penuh, yaitu Nepal, Qatar, Turki, Uni Emirat Arab, dan Zambia.

Baca Juga :  Faber Castell Gandeng PGRI Denpasar Gelar Lomba Mewarnai

Konferensi juga akan membahas rencana tindak lanjut organisasi tersebut untuk masa bakti 2017-2020, dan sejumlah pembahasan untuk lebih meningkatkan peran dan partisipasi ISGF di masa mendatang.

Tak kalah menariknya, para peserta akan diajak pula mengenal Bali lebih mendalam dengan kunjungan ke sejumlah banjar. Tercatat lima banjar yang akan dikunjungi para peserta, serta kunjungan wisata ke Uluwatu (Monkey Temple). Semuanya itu dikordinir oleh panitia yang diketuai Djoko Hardono, mantan Kepala Protokol Istana dan diplomat kawakan yang juga aktif di kepramukaan pada masa mudanya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here