Gelar Diskusi Publik, Kominfo Ajak Perangi Hoax Corona dan Wujudkan Idola 2030

DENPASAR, Berita Dewata – Guna meluruskan informasi terkait virus Corona atau Covid-19 dan dalam rangka mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA) di 2030, yang merupakan program prioritas pemerintah yang dilakukan secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan guna dengan program Kabupaten/Kota.

Bersama Diskominfos Bali, Kementerian Kominfo mengadakan acara Forum Diskusi Publik dengan tema “Implementasi Informasi Ramah Anak dalam Mewujudkan Kota Layak Anak”, sekaligus diskusi perangi Hoax Corona, berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali di Denpasar, Sabtu, 7 Maret 2020.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Kominfo Wiryanta mengatakan, dua hal yang menjadi hak dasar anak yakni, pendidikan dan kesehatan. “Contoh kota layak anak salah satunya menyediakan informasi ramah anak, yaitu informasi yang berdampak positif terhadap pertumbuhan anak,” kata Wiryanta ditemui usai pembukaan acara Forum Diskusi Publik.

Menurutnya, sampai saat ini masih ada 97 Kabupaten/Kota di Indonesia yang belum memenuhi persyaratan sebagai kota layak anak. Kegiatan yang dilakukan di Bali, dikatakan Wiryanta, dijadikan ‘benchmark’ sebagai tolok ukur bagi daerah lain.

Seluruh Kabupaten/Kota di Bali menurut Wiryanta, telah memenuhi standar sebagai kota ramah anak. “Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan standar, karena ada sekitar 20 persyaratatan untuk sebuah kota masuk sebagai kota layak anak,” ujarnya.

Dalam kegiatan yang digelar di gedung pertemuan Disdikpora Provinsi Bali, ratusan siswa tingkat SMP dan SMA di Bali diajak berdiskusi tentang berbagai informasi. Termasuk informasi terkait virus corona covid-19 yang saat ini tengah menjadi isu.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Kominfo Wiryanta bersama Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Diskominfos, Ida Bagus Agung Ludra

Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Diskominfos, Ida Bagus Agung Ludra mengatakan, informasi kepada anak harus diberikan secara benar dan dalam bahasa yang mudah dipahami. Seperti contoh saat ini, membanjirnya informasi terkait virus yang ditemukan di Wuhan, China.

“Anak-anak diberikan pemahaman tentang informasi gak benar dan hoaks. Hoaks (virus corona) itu bukan hanya terjadi di Bali atau nasional, tapi sudah mendunia dan berpengaruh ke setiap aspek kehidupan. Itu yang harus diluruskan,” ungkap Ludra.

Wiryanta menambahkan, Presiden pernah mengatakan ada 2 orang terpapar oleh virus Corona, “Ini terjadi kepanikan macam-macam, sebetulnya bahaya dari virus Corona itu jauh lebih rendah orang yang terpapar 94% sembuh, catat itu 94% sembuh jadi tingkat kematiannya rendah sekali itu hanya sekitar 3-4%.” Terangnya.

Justru yang membuat kecemasan pada masyarakat itu yang lebih berbahaya dari Corona. Adanya penyebaran kabar bohong atau hoax hal-hal yang semacam itu yang berbahaya. Hoax disampaikan oleh segelintir orang/oknum yang membuat kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. “Stop dan hentikan Hoax.” Tegasnya.

“Terkait persoalan masalah kesehatan, solusinya adalah rajin mencuci tangan pakai sabun di air yang mengalir itu salah satunya, kemudian istirahat yang cukup jaga kesehatan makan makanan yang bergizi.” Tutupnya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here