Diskusi BI Bareng Media: Bali Perlu Transformasi Ekonomi di Era Pandemi

DENPASAR, BeritaDewata – Bank Indonesia Perwakilan Bali menggelar Capacity Building Kerangka Kebijakan Moneter di Indonesia dan Transformasi Ekonomi Bali Non Pariwisata di Denpasar, Rabu (23/6/2021).

Kegiatan dipandu, Tim Pengembangan Ekonomi Kantor BI Perwakilan Bali Donny Heatubun dengan narasumber Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda dan Dekan FE Universitas Pendidikan Nasional Bali Prof. Ida Bagus Raka Suardana.

Saat ini berbagai upaya telah digerakan termasuk BUMN melalui Work From Bali (WFB) meskipun tidak signifikan namun memberikan dampak positif bagi perekonomian di Bali. Menurut Rizki Ernadi, kebijakan moneter BI adalah menjaga (mencapai dan memelihara) kestabilan nilai Rupiah, termasuk saat pandemi Covid-19.

“Kebijakan moneter BI saat pandemi Covid-19 adalah menjaga (mencapai dan memelihara) kestabilan nilai Rupiah. Kestabilan Rupiah yang dimaksud mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama, kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin dari perkembangan laju inflasi. Dimensi kedua terkait dengan kestabilan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara lain,” ungkapnya.

Sejak 1 Juli 2005, BI menerapkan kerangka kebijakan moneter Inflation Targeting Framework (ITF). Kerangka kebijakan tersebut dipandang sesuai dengan mandat dan aspek kelembagaan yang diamanatkan oleh Undang-Undang. Dalam kerangka ini, inflasi merupakan sasaran yang diutamakan (over riding objective).

“BI terus melakukan berbagai penyempurnaan kerangka kebijakan moneter, sesuai dengan perubahan dinamika dan tantangan perekonomian yang terjadi, guna memperkuat efektivitasnya,” kata Rizki.

ITF merupakan suatu kerangka kerja (framework) dengan kebijakan moneter yang diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan ke depan dan diumumkan kepada publik sebagai perwujudan dari komitmen dan akuntabilitas Bank Sentral.

Dekan FEB Undiknas, Prof. Ida Bagus Raka Suardana menyampaikan, sudah saatnya Bali perlu transformasi ekonomi di masa pandemi Covid-19 ini. “Dulu tokoh Bali bernama Ida Pedanda Made Gunung sudah meramalkan jika Bali jangan terlalu tergantung pada pariwisata sebab sangat rentan terhadap berbagai persoalan politik, ekonomi dan kesehatan dunia. Sekarang ramalan itu terbukti. Pariwisata anjlok karena pandemi Covid19. Semua kaget,” ujarnya.

Ketika pariwisata anjlok ekonomi Bali menjadi terpuruk. Bahkan pertumbuhan ekonomi Bali menjadi yang terendah di Indonesia karena menggantungkan pada sektor pariwisata. Untuk itu saatnya Bali melakukan transformasi ekonomi.

Menurut Suardana, Bali tidak bisa menggantungkan nasib pada kedatangan wisman. Bali harus bergerak dengan sektor lain dari pariwisata. Selama pandemi Covid-19, pariwista Bali tidak bisa diharapkan seperti dahulu.

Seiring pandemi pula, diharapkan secara bertahap orang bisa melakukan perlintasan hingga ke Bali, menikmati kuliner Bali dan sebagainya. Ada beberapa sektor yang bisa dikembangkan di tengah pandemi ini. Pertama, sektor pertanian. Ada 6 kabupaten di Bali dengan sektor terbesar dan masih bisa dikembangkan.

“Kecuali Badung dan Denpasar karena disana hanya ada pertanian beton,” sinisnya. Dari pertanian, ada potensi komoditi unggulan seperti padi, salak, sapi, kopi, cengkeh. Rata-rata petani di Bali punya 30 are lahan pertanian. Sebab, kompetensi masyarat Bali berubah. Di bidang pertanian hampir tidak ada. Sekarang untuk panen padi saja orang harus bayar kuli.

Kedua, sektor ekonomi kreatif. Ini peluang bagi Bali sebab orang Bali itu kreatif. Tinggal poles di marketing berbasis teknologi. Ada banyak industri kreatif di Bali yang diminati oleh banyak di dunia. Ketiga, refocusing pariwisata. Zonasi pengembangan Bali harus diubah.

Bali harus kembali ke pariwisata berkualitas. Bukan pariwisata sandal jepit. Jadi tidak perlu kejar jumlah yang banyak melainkan kualitas. Keempat, sektor pendidikan. Kampus asing belum marak di Bali. Ada protes dari APTISI kalau banyka mahasiswa asing, kampus swasta tidak bisa bisa bersaing.

Kelima, pembayaran digital. BI sudah mengembangkan pembayaran digital dengan sangat marak di Bali. Ini potensi yang sangat besar. “Lalu apa ekonomi Bali di masa depan. Yang paling memungkinkan adalah pertama, pertanian, kelauatan, perkebunan. Kedua ekonomi kreatif, pariwisata,’ tutupnya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here