Berkedok Koperasi, Lembaga Keuangan Ilegal Menipu Ratusan Nasabah di Bali

Puluhan nasabah koperasi tersebut meminta bantuan hukum ke Kantor Pengacara Big Law Firm yang beralamat di Jalan Letda Kadjeng, Denpasar, Selasa (15/1)

Denpasar, BeritaDewata.com – Lembaga keuangan ilegal yang berkedok “Koperasi” Penyelamat Aset, berhasil menipu uang ratusaan miliar dari para nasabah. Puluhan masyarakat dari berbagai kabupaten di Bali menjadi korban.

Rata-rata perorang rugi sebesar Rp 50 juta hingga Rp 2 miliar. Puluhan warga tersebut mempertanyakan nasib mereka yang terjebak dalam usaha yang berkedok”koperasi” yang sebenarnya merupakan lembaga keuangan ilegal.

Setelah menuntut pihak Koperasi Penyelamatan Aset tidak menemui jalan keluar puluhan nasabah koperasi tersebut meminta bantuan hukum ke Kantor Pengacara Big Law Firm yang beralamat di Jalan Letda Kadjeng, Denpasar, Selasa (15/1).

Beberapa korban diminta untuk memberikan testimoni kronologi upaya penipuan Koperasi Penyelamatan Aset. Diketahui, dari beberapa anggota menjelaskan, jika nama koperasinya berbeda-beda dengan nama depan koperasi selalu sama yakini “Maha”. Ada Maha Suci, Maha Agung dan seterusnya.

Sekalipun namanya beda, namun pengurus dan manajernya sama. Diduga ada 12 lembaga keuangan yang mengatasnamakan “koperasi” melalui program “Penyelamatan Aset” berkeliaran mengiming-imingi kemudahan dalam penyelesaian kredit mereka di beberapa bank. Namun rupanya itu hanyalah kedok untuk bisa menjerat nasabah masuk ke skema yang mereka jalankan.

Menurut salah seorang korban, ke-12 koperasi tersebut pemiliknya satu orang yaitu I Gusti Agung Wiratma, yang saat ini sudah almarhum. “Saya kena Rp 191 juta di “Koperasi Maha Suci” Tabanan,” ucap Panca yang sudah pernah melaporkan hal ini ke pihak berwajib, namun “slow respon” di Kantor Pengacara Big Law Firm, Denpasar (15/1).

Sedangkan korban lainnya Ni Komang Kompyangwati juga mengalami nasib yang sama menderita kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi korban lainnya yang enggan disebutkan namanya kerugiannya mencapi Rp 1 milyar lebih.

Baik Panca ataupun Kompyangwati ataupun korban lainnya serentak mengatakan baik pihak bank ataupun “koperasi” terkesan lepas tangan dan tidak mau tahu. Justru salah seorang petugas koperasi pernah menyampaikan jika pemilik meninggal, otomatis segala sesuatunya secara otomatis gugur.

“Ini kan namanya cuci tangan, lantas bagaimana dengan aset kami yang ada di bank, sedangkan uang kami tidak terima, tapi harus membayar kredit,” ucap I Gusti Kadek Ayu Suandewi salah seorang korban dengan mimik serius.

Dari kesaksian korban, modusnya semuanya sama. Dimana, mereka mengetahui jika para nasabah ini mengalami kredit macet atau tidak bisa membayar angsuran bulanan baik kredit di koperasi maupun di bank. Mengetahui ada nasabah yang kredit macet, maka marketing Koperasi Penyelamatan Aset mendatangi nasabah.

Mereka menjamin akan menyelamatkan aset namun dengan syarat harus memberikan agunan dengan nilai yang lebih besar, untuk dijadikan jaminan di bank dan sisa uang hasil kredit di bank setelah ada jaminan akan menjadi modal deposito di Koperasi Penyelamatan Aset.

Para nasabah akhirnya tergiur dan merelakan asetnya menjadi jaminan dengan harga miring, sementara uang hasil deposito di koperasi akan menjadi angsuran tiap bulannya. Namun semuanya tertipu.

Kuasa Hukum para korban, Joko Tirtono dari kantor Pengacara Big Law Firm, mengatakan, apa yang dijalankan oleh usaha keuangan ilegal ini cara kerjanya sistematis, artinya mereka sudah mengetahui siapa saja yang bisa menjadi calon korbannya atau bisa dibilang sebagai suatu sindikat.

Dimana usaha yang katanya “koperasi” telah memiliki mitra “oknum” bank mana saja yang bisa diajak kerjasama. Modusnya, koperasi akan mengarahkan nasabah mengambil kredit dengan bank yang ditunjuk. “Bahkan ada salah seorang nasabah yang dipalsukan data dirinya juga tanda tangannya,” ungkap Joko yang kerap dipanggil Jack ini.

Dalam hal ini Jack mengakui kasus yang ditangani ini bukan ranahnya OJK ataupun Dinas Koperasi, namun pidana murni dan penanganannya ada di Kepolisian. Untuk itu ia meminta peran aktif Kepolisian dalam mengatasi kasus ini. “Kami siap memberikan keterangan, kapanpun dan saya yang akan mendampingi klien saya,” tandasnya.

Namun demikian sebelumnya Jack akan melayangkan somasi kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab atas persoalan ini dalam beberapa hari kedepan. Nasabah totalnya mencapai sekitar 500 orang. Jadi uang digelapkan pihak koperasi diperkirakan mencapai Rp 150 miliar. “Kita somasi mereka. Kita akan berjuang,” tutupnya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here