Bangun Sektor Pertanian, Pemprov Bali Kirim 900 Petani ke BBPP Ketindan

Presstour Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali 26 juli 2017

Denpasar – Keseriusan Pemprov Bali dan 9 kabupaten dan kota di Bali untuk membangung sektor pertanian sangat luar biasa. Pemprov dan 9 kabupaten dan kota di Bali menyatukan visi dan misinya untuk membangun pertanian Bali secara clean and green, organik, dengan sentuhan teknologi terkini. Pertanian Bali dengan program Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) terus melakukan berbagai inovasi di bidang pertanian.

Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra membenarkan, jika dalam tiga tahun terakhir, sudah 900 lebih orang petani Bali yang dikirim ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Jawa Timur yang milik Kementerian Pertanian. “Kita mengirim banyak petani, penyuluh pertanian ke BBPP Ketindan. Diharapkan, sistem pertanian Bali sebagai penopang pariwisata terus. Ini bukan program kosong. Kami sudah meninjau langsung ke sana. Data di BBPP Ketindan memang peserta dari Bali sangat banyak,” ujarnya di Denpasar, Minggu (30/7).

Baca Juga :  Taman Wisata Dunia Dideklarasikan di Bali

Bila dilihat data yang ada di BBPP Ketindan, tahun 2014 ada 94 petani, tahun 2015 ada 524 petani, tahun 2016 ada 206 petani dan sampai dengan Juli 2017 ada 147 petani yang dikirim untuk mengikuti pelatihan. Jumlah semua dalam tiga tahun terakhir mencapai 979 petani dan penyuluh yang mendapatkan pelatihan pertanian di BBPP Ketindan. “Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan pertanian di Bali,” ujarnya.

Menurutnya, dalam pelatihan tersebut ada beberapa materi yang mendapat perhatian khusus yakni bawang merah dan cabe (babe). Kedua produk tersebut selalu menjadi momok yang menakutkan dan mengkuatirkan dan bisa menyebabkan inflasi di Bali terutama di saat-saat musim hari raya. Saat ini sedang berlangsung pelatihan yang diikuti sebanyak 22 penyuluh pertanian, dan petani dari Bali. Mereka sedang mempelajari teknologi pembudidayaan padi, jagung, kedelai, bawang merah dan cabai.

Pelatihan yang diberikan kepada para penyuluh diberikan dengan cara organik mengingat persaingan mendatang tidak hanya mengenai produk, tetapi juga cara pengembangan hasil pertanian harus organik. Dalam konteks pariwisata, maka pertanian Bali tetap harus menjadi terdepan dalam pengembangannya karena pariwisata tanpa pertanian sama sekali tidak ada artinya.

Baca Juga :  Bupati Klungkung Kunjungi Bocah Penderita Gizi Buruk di RS Sanglah
Presstour Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali 26 juli 2017

Kepala BBPP Ketindan Djajadi Gunawan saat dikonfirmasi membenarkan jika petani dan penyuluh pertanian asal Bali merupakan peserta terbanyak dalam mengikuti pelatihan. Pihaknya menyambut baik kunjungan pihak Humas dan Protokol Bali yang melihat langsung berbagai kegiatan di BBPP Ketindan Jawa Timur. Bahkan, BBPP Ketindan Jatim sudah bekerja sama dengan Pemerintah Bali dalam berbagai bidang pelatihan dan penelitian pertanian.

“Kami sudah melatih petugas yang bergerak di bidang pertanian organik. Jadi harus mempunyai sertifikat dan cara produksi dari petani juga harus ada sertifikat supaya diakui saat nanti diekspor dan kami adalah tempat uji kompetensinya itu,” katanya. Selain pelatihan teknologi pembudidayaan, juga diberikan teknologi penggunaan mesin pertanian, pelatihan biotek yakni pemupukan yang memanfaatkan mikroba hingga cara mengobati tanah yang sudah tidak subur atau sakit karena bahan-bahan kimia menjadi tanah yang sehat kembali.

Baca Juga :  Trumbu Karang di Buleleng Semakin Memprihatinkan

Menurutnya, lahan pertanian di Bali semakin hari semakin sempit karena pesatnya pembangunan di bidang infrastruktur dan pariwisata. Teknologi pertanian juga melatih bagaimana bertani di lahan yang sempit dengan menghasilkan produk berkualitas. Dari sisi kelimuan, Gunawan memberikan beberapa catatan penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan para penyuluh pertanian.

Beberapa di antaranya, lahan pertanian Bali yang sudah semakin sempit, sumber air masih menjadi masalah di Bali karena penyebaran air yang tidak merata, banyak tanah yang sudah tercemar sehingga harus diobati terlebih dahulu. Namun disisi lain, para petani Bali sangat mudah memahami teknologi, mudah menyerapnya, dan mudah mengaplikasikannya dalam praktek pertanian sehari-hari.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here