Arsip Bali yang Tersebar di Eropa dan Amerika Dikembalikan

Beritadewata.com, Denpasar – Bali kini sedang memperjuangkan untuk mengembalikan seluruh arsip sejarah, seni budaya, permainan tradisional lainnya, yang tersebar di Eropa dan Amerika untuk dikembalikan ke Bali.

Koordinator Arsip 1928 Bali Made Marlo Bandem menjelaskan, sejak tahun 1928, seni budaya, agama, adat Bali, permainan tradisional sebenarnya sudah bersentuhan dengan teknologi. Dan kini, teknologi itu pula yang bisa merawat dan memelihara berbagai arsip Bali sejak tahun 1928.

“Ternyata sudah ada rekaman Gamelan Bali, Gending Bali yang saat ini ada di Jerman, dan direkam di atas piringan hitam. Ada juga film Bali tahun 1928, 1930, perang Puputan Badung, Perang Puputan Klungkung yang sekarang tersimpan di Belanda. Dan beberapa koleksi lainnya ada di beberapa negara seperti Amerika, Meksiko, Sewdia. Kami sedang mengupayakan agar semua rekaman itu kembali ke Bali. Tentu saja dengan berbagai kendala dan tantangan yang harus dilewati,” ujarnya di Denpasar, Minggu (30/04/2017).

Baca Juga :  Siswi SMP Digilir Empat Pemuda di Kamar Kos
Koordinator Arsip 1928 Bali Made Marlo Bandem

Beberapa kendala yang dihadapi antara lain komunikasi dengan ahliwaris pemilik rekaman yang sangat sulit. Mereka tidak serta merta memberikan rekaman itu. Mereka harus memastikan apakah Bali mampu menyimpannya secara teknologi, terlestari dengan baik, memilik lembaga resmi yang aman untuk menyimpannya, dan seterusnya.

Untuk itu Arsip Bali 1928 bekerja sama dengan STIKOM Bali sebagai lembaga yang dipercaya untuk menyimpannya karena memiliki kapasitas dan kredibilitas untuk melakukan restorasi terhadap berbagai arsip yang memiliki nilai sejarah itu.

Teknologi digital yang dimiliki STIKOM Bali sangat berkualitas dan layak untuk melakukan berbagai restorasi tersebut. Selain itu, untuk arsip Bali yang ada di Belanda, kendala utamanya adalah sensifitas sejarah antara Bali dan Belanda.

Dimana arsip itu berisikan perang Puputan Badung dan Puputan Klungkung antara Belanda melawan rakyat Bali dengan banyak korban di antara keduanya. “Kami sedang melakukan pendekatan itu dan berupaya untuk tidak mengungkit-ungkit sensifitas tersebut sehingga arsip-arsip itu bisa kembali ke tanah dewata ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Pengunjung Dibatasi Akses Masuk karena Upacara Padudusan Agung di Pura Goa Lawah

Sampai saat ini sudah terkumpul sekitar 111 piringan hitam yang sudah direstorasi melalui proses digitalisasi oleh STIKOM Bali sebanyak 5 volumen dan akan ada penambahan 2 volume yakni volume ke-6 tentang permainan tradisional anak serta volume ke-7 tentang seni kerawitan. Selain 111 piringan hitam, masih ada 5 film tradisional Bali dan 110 foto yang sudah dikumpulkan.

Dari 110 foto itu sudah ada 50 foto yang sudah dicetak ulang lengkap dengan keterangan gambarnya. Semua karya ini dikumpulkan dari Amerika, Meksiko dan Swedia. Sementara untuk arsip yang ada di Belanda sedang diupayakan untuk dikembalikan ke Bali.

Menurutnya, proses pengembalian arsip Bali 1928 sampai saat ini belum selesai. Untuk itu ia berharap semua pihak agar ikut berpartisipasi untuk mengembalikan koleksi audiovisual ini ke Bali sebagai bahan pembelajaran bagi generasi muda Bali bahwa budaya Bali sejak awal sudah bersentuhan dengan teknologi.

Baca Juga :  Bandara Ngurah Rai Layani 3,7 Juta Penumpang di Tahun 2021

“Inilah kehebatan para leluhur Bali yang berkarya dan menjadi daya tarik orang asing. Ini juga menjadi materi penelitian yang berkualitas dalam bidang agama, budaya dan kesenian serta kehidupan sosial masyarakat lainnya,” ujarnya.

Seluruh karya-karya dan arsip masa lalu itu akan dipamerkan dan disediakan ruangan khusus di Kampus STIKOM Bali dan semuanya terbuka untuk umum secara gratis.

“Kita berharap pemerintah di Bali baik kabupaten dan kota maupun Provinsi Bali juga ikut berperan dengan caranya sendiri untuk menyelamatkan karya-karya tersebut ke Bali,” ujarnya.

Sebarkan Berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here